Naskah Drama Natal Komisi Sekolah Minggu GKMI Jepara

Naskah Drama Natal Komisi Sekolah Minggu GKMI Jepara

26 Desember 2008
Tema: Anak BIJAK

Oleh: ANTONI NUGROHO

Tokoh-tokoh:

TITO: Anak dari keluarga sederhana; seorang yang baik hati dan takut Tuhan.
YOHANES : Anak dari keluarga yang sangat kaya; seorang yang sombong dan manja.
DIDIT : Anak Yatim Piatu; hidup dijalanan, tidak sekolah tapi mau bekerja keras.
AYAH TITO : Ayah yang mengasihi istri dan anaknya
IBU TITO : Ibu yang mengasihi suami dan anaknya
PENGASUH YOHANES : Selalu menjalankan tugas dan memanjakan yang diasuh.
GURU SEKOLAH MINGGU : Pembimbing yang baik bagi anak Sekolah Minggu

PROLOG

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran
dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam
rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang
harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat
meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang
ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku:
“Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

BABAK I

Setting : Dunia yang indah ciptaan Tuhan digambarkan oleh penari dari kelompok Indria dan P 1.

Tito : Aduh…. indahnya dunia ini ……… Tuhan Yesus memang luar biasa. Coba lihat (sambil menunjuk sesuatu dan mendekat) indahnya bunga itu……… (berlari ke tempat yang lain) di sebelah sini ada ikan………. ada burung……….hahaha………..mereka semua lucu-lucu. Tapi lihat (sambil menunjuk sampah/kotoran yang tercecer dengan wajah yang tidak suka) ……… wah banyak sekali sampah yang dibuang sembarangan…….uh..uh..uh.. banyak sekali…… pantas saja sering banjir ditempat tinggalku………. karena banyak orang menjadi tidak bijaksana memelihara dunia. Apakah yang dapat saya lakukan…..? (sambil melihat kekanan dan kekiri mencari sesuatu sambil mendekat kearah Didit tidur)
Didit : (sedang tidur didekat dimana Tito berada… karena merasa terganggu maka dia terbangun) aduh…….. siapa ya berisik sekali……….apa tidak tahu saya lagi tidur….. aduh badanku rasanya capek sekali….(tetapi dengan perasaan kaget berteriak) hei …. kamu siapa?
Tito : aduh maaf…saya tidak tahu ada orang lain ditempat ini…e… e,… nama saya Tito…kamu siapa?
Didit : saya Didit…. kenapa kamu datang ke rumahku?
Tito : Rumah? ……(sambil bingung dan melihat sekitar) apa saya yang keliru? Disini kan tidak ada rumah….?
Didit : aduh….Tito kamu memang tidak akan pernah melihat ada bangunan rumah di sini tetapi saya tinggal disini, makanya saya sebut ini rumah saya.?
Tito : jadi kamu… tinggal disini? Dimana orangtua kamu Dit?
Didit : Mereka sudah lama meninggal dunia……..saya sendirian sekarang……(sambil tetap berusaha tersenyum) dan untuk mendapatkan makanan saya harus ……(sambil menunjukkan otot lengannya dan mengambil keranjang ) bekerja….. saya mengumpulkan barang bekas dan saya jual… lumayan bisa makan….. saya bekerja dulu ya…..(sambil bangkit berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Tito)
Tito : Dit…. tunggu ….. Didit……. (tapi Didit sudah pergi meninggalkan Tito)

Babak II

Setting : Perjalanan pulang sekolah yang cukup panas, Pengasuh Yohanes memayungi Yohanes yang sedang kepanasan.

Yohanes : Mbak……………. suster………….. aduh kamu ini bagaimana sih… dari tadi lelet saja kerjanya. Cepat betulin tali sepatuku yang lepas…. cepat ya suster…. udah kepanasan……. mana haus lagi……..huhuhu…(sambil kipas-kipas)
P.Yohanes : Mbok sabar to….Nyo….iki suster juga berat bawa tasnya sinyo (sambil jongkok mau membetulkan tali sepatu)
Yohanes : Aduh…..aduh piye to iki….suster kepalaku kena payung ….kamu mau tak pecat ya….awas kowe …. tak pecat mengko….
P. Yohanes : aduh Nyo, jangan marah Nyo, Mbak Suster minta maaf ya,,……….abis sinyo mintanya buru-buru… jadi lupa kalau bawa payung….jadi ini bagaimana, coba sinyo pegang payungnya, mbak suster mau membetulkan tali sepatu sinyo dulu….(sambil memberikan payung)
Yohanes : sini….sini….cepat ya…. awas kamu….udah berani perintah sama saya…..nanti saya beritahu mama tahu rasa kamu…..

Setelah selesai membetulkan tali sepatu, mereka berjalan kembali hingga mereka bertemu dengan Didit yang sedang mengais sampah….

Yohanes : Mbak suster………ayo lewat sini saja……ada orang gila dan bau disana……
P. Yohanes : lho…piye tho….dia bukan orang gila lho Nyo….tapi orang yang sedang mencari plastik bekas ditempat sampah supaya dapat makan…….tapi mbak suster juga takut………jangan-jangan memang orang gila…..hi…hi…hi…ayo Nyo lewat sini saja….
Yohanes : lho mbak suster kok takut juga……..trus kalau begini enaknya bagaimana……la….la….lari………ayo mbak suster lari………..
P. Yohanes : ayo…Nyo lewat sini….. cepatan….lari….

Tito tiba-tiba datang dari tikungan jalan hampir bertabrakan dengan Yohanes dan pengasuhnya…..

Tito : ada… ada apa Yo? Kok lari-lari seperti dikejar anjing…
Yohanes : ada orang gila disana tuh….takut aku………(sambil terus lari tidak menghiraukan Tito)
Tito : orang gila? Mana……..(sambil mencoba memperhatikan orang yang disebut gila oleh Yohanes)……….Lho itukan Didit.? Dit……….Didit!
Didit : (sambil nengok dan tersenyum) eh kamu Tito…. mau pergi kemana?
Tito : ah… cuma jalan-jalan saja. Dit boleh saya bertanya sama kamu? Jangan tersinggung ya…. seandainya kamu tinggal di rumah saya bagaimana?
Didit : kamu bercanda kan Tito……soalnya mana ada yang mau menerima orang seperti aku dirumahnya……… (sambil tertawa) teman kamu saja lari terbirit lihat muka dan pakaianku….apa kamu tidak malu…..lagi pula orang tua kamu bagaimana? Apa mereka setuju?
Tito : kalau masalah izin orang tua jangan takut deh…. mereka senang kok ketika saya bicarakan hal ini kepada mereka….soalnya saya kebetulan juga tidak ada saudara. Hehe…jadi kita bisa kemana-mana berdua…..bagaimana Dit?
Didit : gimana ya….saya tidak enak nantinya malah merepotkan..
Tito : udah begini saja……….sekarang ayo kerumahku…. ini betul-betul rumah meski tidak bagus tapi cukup layak untuk tidur……. ayo….(sambil menggandeng Didit tanpa canggung)

Babak III

Setting : Rumah sederhana Tito

Tito : Nah…. Dit… ini rumahku…….tidak besar tapi cukup nyaman kan……..
Didit : iya…..e…mana orang tua kamu Tito?
Tito : Sebentar ya…….saya panggil dulu…………Ayah……….Ibu………coba lihat saya bahwa siapa?
Ayah : wah Tito udah pulang………….ini pasti Didit ya……..apa kabar Didit?
Ibu : Didit kan? Tito cerita banyak tentang kamu. Kamu anak yang hebat. Mandiri dan tidak cengeng. Sudah makan Dit?
Didit : kabar saya baik-baik Pak.. Bu.. Terima kasih sudah mau menerima saya…..Cuma apakah saya nanti tidak merepotkan selama saya tinggal disini?
Ayah : Didit, kami semua sangat senang kamu bisa tinggal disini….anggap saja kami keluarga kamu sendiri. Bahkan boleh kok memanggil saya Ayah dan ini Ibu, karena Tito sendiri juga senang punya saudara seperti kamu…
Ibu : Ayah…. bicaranya nanti saja…. yang penting Didit mau tinggal disini….sekarang Tito kamu ajak Didit ke belakang untuk mandi dan jangan lupa pakaian kamu yang kemarin kamu siapkan untuk Didit sekalian disiapkan…. setelah itu baru makan… ya….kita lanjutkan ngobrolnya di meja makan………. ayo……………..(semua pemain masuk)

Narator : Demikianlah akhirnya Didit diterima dengan baik di keluarga Tito. Mereka menjadi keluarga yang baru bagi Didit. Bahkan sejak saat itu Didit juga ikut bersekolah bersama Tito. Tuhan telah memakai keluarga Tito untuk memelihara hidup Didit. Didit tidak perlu lagi kedinginan atau kepanasan. Juga tidak harus mengais sampah untuk mendapatkan sesuap nasi.

Babak IV

Setting : dilapangan bermain

Didit : Tito, apakah kamu bisa membantu saya? Saya masih minder bermain?
Tito : Dit, jangan minder lah……ayo main sama-sama…
Yohanes : Awas…… ada anak gembel lewat………..baunya bau kambing…………….wekk……………..weeeekkkkkkkkkkkkk………(berteriak setelah Didit lewat didekatnya dan disambung tertawa teman-temannya)

Narator : Demikianlah Didit selalu direndahkan oleh teman-temannya. Hanya karena dia dulunya adalah seorang pemulung. Tapi Tuhan Yesus menguatkan hati Didit melalui Tito. Tito memang sahabat sekaligus sahabat yang baik bagi Didit. Bagaimana dengan kalian?

Babak V

Setting : Serambi atau Ruang Tamu Rumah Tito

Didit : Sebetulnya mengapa ya keluarga ini begitu baik ya?
Ayah : Didit? Kok sendirian disini? Tito ada dimana?
Didit : Ayah….. ini lagi pengen sendirian……Yah, Didit mau tanya boleh tidak?
Ayah : Didit knapa jadi sungkan seperti ini., boleh donk. Memangnya mau tanya apa?
Didit : Didit bingung saja, kenapa Ayah, Ibu dan Tito begitu baik sama saya? Saya kan bukan siapa-siapanya ayah? Itu bagi Didit sangat aneh……….
Ayah : Didit, Ayah, Ibu dan Tito seperti ini karena Tuhan Yesus mengasihi kami. Kamu tentunya tidak tau bahwa Ayah bisa hidup seperti ini itu semua karena anugerah dari Tuhan Yesus. Dulu saya orang yang sangat jahat Dit? Tapi hati Ayah diubah setelah Ayah terima Tuhan Yesus. Sampai-sampai Ayah diberikan istri yang baik dan anak yang baik itu semua karena Tuhan Yesus. Dan sekarang Ayah bertemu dengan kamu juga karena Tuhan Yesus. Tidak mungkin Ayah, Ibu dan Tito menerima kamu kalau bukan Tuhan Yesus yang mengubah hati ayah. Jadi jangan bingung ya…. Apakah kamu mau terima Tuhan Yesus, Dit?
Didit : e…sa…saya mau Ayah…
Ayah : Kalau begitu mulai sekarang undanglah Tuhan Yesus masuk dalam hatimu ya Dit. Pasti DIA mau tinggal dihatimu
Didit : iya Ayah…..saya mau undang Yesus masuk dalam hatiku
Ibu : (masuk sambil bawa minuman) aduh bicara apa sih kok serius sekali….ini ibu bawakan kue dan teh hangat. Tito di dalam lagi belajar, Didit sudah selesai belajar?
Didit : e….. belum bu…..kalau begitu saya ke dalam dulu ya bu. Ayah saya belajar dulu ya… besok biar bisa mengerjakan soal ujian dengan baik
Ayah : ya..ya…ayo cepet sana….nanti malah ngantuk kamu karena hari sudah malam. Didit… jangan lupa ya berdoa minta Tuhan Yesus menolong kamu.
Didit : iya Ayah. Ibu saya masuk dulu ya….mau belajar di dalam
Ibu : (menunggu Didit masuk) mencicipi makanan dan minuman

Babak VI

Setting : Di dalam kelas setelah selesai ujian

Tito : Bagaimana Dit, apakah kamu bisa menjawab semua soal ujian?
Didit : Saya tidak tahu hasilnya Tito, tapi yang terpenting saya sudah berusaha menjawab semuanya. Lihat nanti hasilnya?
Tito : Yang pasti kita tidak nyontek itu sudah menyenangkan hati Tuhan Yesus.
Didit : Iya Tito…. saya tadi dipaksa untuk memberikan contekan ke Yohanes, tapi saya lebih takut sama Tuhan Yesus dibandingkan sama dia….
Tito : Bagus, ayo kita pulang……..udah lapar nih……..
Didit : Boleh tidak kalau kita berdoa terlebih dahulu sebelum pulang….. saya mau mengucap syukur karena Tuhan sudah menolong saya… Tito mau kan kita berdoa bersama……….
Tito : Ayo kita berdoa…..

Narator : Demikianlah Tito dan Didit berdoa kepada Tuhan Yesus yang sudah menolong mereka dan menjauhkan mereka dari segala pencobaan. Dengan mau jujur dan tidak berbuat curang sewaktu ujian. Apakah kalian semua juga mau melakukan hal ini?

Babak VII

Setting : Ruang kelas Sekolah Minggu

Guru SM : Siapakah yang hafal bunyi hukum kelima dari sepuluh hukum Tuhan?
Yohanes : Saya bu guru?
Guru SM : coba kamu Yohanes apa bunyinya?
Yohanes : jangan mencuri (anak-anak yang lain berteriak salah-salah, sambil mengacungkan jari)
Didit : saya bu, kalau tidak salah ingat, hormatilah Ayah dan Ibumu supaya lanjut umurmu ditanah yang Ku berikan kepadamu.
Guru SM : benar sekali Didit. Kamu pintar sekali. Kita harus menghormati orang tua kita karena itu perintah Tuhan. Bagaimana cara menghormati orang tua kita?
Tito : menaati dan tidak menghina orang tua kita.
Guru SM : benar Tito
Didit : menyayangi dan menyenangkan orang tua dengan belajar lebih rajin dan tidak malas
Yohanes : tapi bu guru, orang tua saya tidak pernah marah kalau saya malas dan bangun tidur kesiangan. Kalau saya tidak masuk sekolah juga tidak marah. Ini berarti orang tua saya tidak merasa tidak dihormati.
Guru SM : Yohanes dan anak-anak semua, Tuhan Yesus menghendaki setiap kita menjadi anak BIJAK. Cara menjadi anak BIJAK selalu mendengar nasehat orang tua dan patuh kepadanya. Kita tidak nakal, kita rajin belajar, kita menjadi pintar itulah menghormati dan menyayangi orang tua kita. Tentunya orang tua Yohanes memang tidak terlihat sedih kalau Yohanes nakal. mereka juga tidak marah. Tapi tahukah kamu sesungguhnya mereka sedih. Anak -anak BIJAK berarti mari kita hormati orang tua kita, sayangi kakak kita, sayangi adik kita. Tuhan Yesus pasti senang dengan anak-anak BIJAK. Amin.

Ending

Calling oleh Pembimbing/Pembawa Firman
Selesai disambut pujian Komitmen Pujian kedelapan

Doa berkat
Selamat hari Natal bersalam-salaman, pulang

NB: Setiap babak diselingi dengan pujian yang terdapat di Album Anak Bijak oleh TW Kids

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: