Arsip untuk November 10th, 2008

Yakobus 5: Pelajaran Berharga Mengenai Kesabaran

November 10, 2008

Pendahuluan

Sebuah rumah gubuk kecil berdiri anggun di tanah pegunungan yang indah dan hijau. Di gubuk yang terpencil itu, tinggallah seorang kakek tua yang sangat terkenal karena kebijakasanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasehat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasehat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi yang tidak terkendali.
Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, “Anak muda, setiap kali engkau tersinggung atau terpancing untuk marah-marah, ingatlah ren 7 pu. Tujuh langkah kesabaran. Untuk itu, lakukanlah twee 7 pu, cai cuo 7 pu, yaitu melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan bertindak.”
Merasa mendapatkan nasihat bijak, pria itu pulang kembali ke desanya. Ia yakin sekali masalah emosi yang dideritanya pasti bisa terpecahkan. Tiga hari perjalanan kembali harus dia tempuh. Hari telah larut ketika ia sampai di rumah. Dengan pakaian yang lusuh, badan letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar istrinya. Di kepalanya, ia hendak meminta istrinya supaya menyediakan makan malam dan air hangat untuk mandi. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.
Demi melihat pemandangan menjijikkan itu, langsung amarahnya meluap tak tertahankan lagi. “Kurang ajar! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani menyeleweng…!” Tanpa berpikir panjang, pria itu mencabut belati dan hendak menghabisi keduanya. Tetapi, seketika itu juga dirinya teringat dengan nasehat si kakek tua yang bijak; twee 7 pu, cai cuo 7 pu. Sambil tetap mengangkat tangan menghunus belati, pria itu mulai menjalankan nasihat si kakek. Ia melangkah sambil menghitung, dwee 7 pu, mundur tujuh langkah, cai cuo 7 pu, maju tujuh langkah. Kembali lagi, dwee 7 pu cai cuo 7 pu, sampai akhirnya suara hitungan dan hentakan kakinya membangunkan sang istri.

Cerita diatas dihentikan sampai disini. Apa yang menjadi bayangan dipikiran kita untuk melanjutkan ataupun menebak cerita ini?

Isi

Pasal V terbagi menjadi 3 bagian besar yang sudah terbagi dengan baik oleh LAI (1) persoalan tentang fokus hidup adalah bukanlah materi (2) ketika datang kesukaran oleh karena materi apapun, sabarlah menunggu pertolongan Tuhan; (3) setialah untuk berdoa dan dekat pada Tuhan.
Ada tiga hal yang harus dilakukan supaya kita tetap tidak kehilangan fokus hidup, yakni:
1. Ay. 1-3 ______________________________________________ [atur dengan bijak]
2. Ay. 4 ____________________________________________ [gunakan dengan jujur]
3. Ay. 5-6 ___________________________________________ [bagikan dengan tulus]

Bagian Doa yang senantiasa [harus] menjadi PR untuk terus menerus kita kerjakan adalah persoalan kesabaran menantikan waktu TUHAN.
Menjadikan kesabaran menjadi bagian penting dalam hidup kita tidaklah mudah; paling tidak ada tiga pencobaan yang menghadang kita sehingga membuat kita tidak lagi sabar menanti waktu Tuhan:
1. Ay. 7 dan 8A _________________________________________________ [menunggu]
2. Ay. 8B ______________________________________________________ [perspektif]
3. Ay. 9 _______________________________________________________ [mengutuk]

Apa yang seharusnya dilakukan ketika 3 hal diatas mulai datang mencobai kita?
1. Ay. 7 dan 8A _________________________________________________________
2. Ay. 8B ______________________________________________________________
3. Ay. 9 _______________________________________________________________
Rangkaian dari Doa bukan hanya persoalan fokus, kesabaran menunggu saja, tetapi juga segala bentuk aspek hidup kita persembahkan dan naikkan dalam hidup kita
_____________________________________________________________________________________________

_____________________________________________________________________________________________

____________________________________________________________________________________Ay. 13-18

Penutup
ren 7 pu , tujuh langkah kesabaran menurut Yakobus: (1) atur dengan bijak; (2) gunakan dengan jujur; (3) bagikan dengan tulus; (4) belajar menanti waktu Tuhan; (5) dekat dengan Tuhan; (6) jangan mengutuk; dan (7) naikkanlah terus dalam doa pada Tuhan

Iklan

BAGAIMANA JIKA KEHIDUPAN TERNYATA TIDAK ADIL? (1 PETRUS 3:12-17)

November 10, 2008

Pendahuluan

Ada banyak versi dongeng yang mengupas tentang kebaikan dan kejahatan yang pada akhirnya kebaikan berkuasa atau pun menang atas kejahatan. Mulai dongeng lokal di Indonesia seperti Bawang Merah dan Bawang Putih, Malin Kundang, Rawa Pening, Ande-ande Lumut, hingga yang berasal dari belahan dunia lain pun bercerita hal yang sama, yakni Cinderella atau pun Putri Salju. Inti sari dan pesan yang ingin disampaikan pun sama orang yang baik akan menerima pahala mereka dan hidup bahagia selamanya sedangkan orang yang jahat dihukum dengan tegas dan sepantasnya. Dan inilah yang dinamakan keadilan. Bukankah akan menjadi kerinduan setiap kita agar suasana yang adil dapat diwujudkan. Sayangnya hidup tidak selalu demikian. Dalam setiap kesempatan senantiasa dijumpai bahwa kejujuran akan menjadi barang yang sangat langka; bahwa orang yang jujur akan menjadi bubur kacang ijo alias hancur; bahwa hidup menjadi sangat sulit. Kita menantikan bahwa dusta harus dibeberkan, ketidakjujuran harus diungkapkan dan kebenaran seharusnya mendapat pahala. Akan tetapi hal-hal itu tidak atau bahkan tidak pernah terjadi, paling tidak sebagaimana yang kita kehendaki. Sejumlah keluarga menjadi porak-poranda; banyak pasangan meninggalkan pasangannya yang setia; penyakit yang merenggut orang-orang yang mengasihi Tuhan; ketidakadilan dan ketidakjujuran yang melanda suasana kerja dan sekolah yang menjadi-jadi.
Kehidupan sungguh sangat tidak adil bagi sebagian orang ataupun bahkan bagi sebagian besar orang. Sesungguhnya kehidupan itu memang sulit akan tetapi disitulah didapati pelajaran yang terbaik dari kehidupan. Sebagai orang Kristen kita tahu bahwa pada akhirnya kebiakan akan menang atas kejahatan dan bahwa Allah kita adalah adil dan baik serta tidak memihak yang salah. Tetapi apa yang dapat kita lakukan dengan ketidakadilan dan ketidakjujuran pada saat sekarang ini? Bagaimana kita dapat terus melangkah maju di balik perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan itu?

ISI
1. Modal dasar seorang Kristen dapat menghadapi kehidupan yang tidak adil?
a. Ayat 12 _________________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________________
b. Ayat 13 _________________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________
c. Ayat 14a __________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________

2. Tips sederhana yang dapat menolong kita dapat menanggapi dengan bijaksana ketika ketidakadilan terjadi:

a. Jangan ……………….. ataupun ……………..takut (v.14b) Perhatikan kata takut  phobia  takut yang menguasai menyebabkan lari dari kenyataan dan tekanan.  Perhatikan kata gentar  tidak tenang; perasaan kacau; gelisah ataupun bingung

b. ……………………Kristus adalah Tuhan dalam ……………………. (v.15a). Kisah Stefanus  Kis. 7:55-60  menyerahkan segala sesuatu pada kontrol Kristus  nama Tuhan dimuliakan  mendatangkan kepuasan yang kekal.

c. Selalu siap ……………….. kesaksian (v. 15b).  Pertanggungjawaban apologia  pembelaan secara lisan ( masuk akal dan dapat dimengerti) yang diliputi kelemahlembutan (kasih dan sopan) dan penuh horma (disampaikan sebagaimana perkataan yang ditujukan kepada Allah dengan sukacita) yang didalamnya nyata deklarasi kebenaran. Berdirilah atas nama kebenaran yang berkata hitam ataupun putih dan tidak kepada abu-abu.

d. Pelihara ………………………………yang murni (v. 16)
Rangkuman untuk menggambarkan bagian ayat ini adalah sepadan dengan kata integritas  karakter kokoh menghadapi ujian dengan terus menerus dan konsisten sehingga membuat para pemfitnah akan terdiam dan tidak bisa berbuat apapun untuk menfitnah.

e. Milikilah prinsip utama dan tidak tergoyahkan:  ………………………………………………………………………………………………………………………………………….(v.17)
Kisah Ayub  menjauhi kejahatan, memperhatikan keluarga, berjalan bersama Allah tetapi tanpa peringatan terlebih dahulu dan tampaknya tanpa alasan kehilangan semua yang dimilikinya  kita tidak mengharapkan kisah Ayub menimpa kita  jikalau kita menjadi Ayub modern jangan menghabiskan waktu untuk bertanya mengapa tetapi habiskanlah hidup dengan menerima segala bentuk arahan Tuhan (lihat: Yesaya 55:8-9) Selamat bergumul.

Realita Kegelisahan dan Ketakutan dalam Mengikut Tuhan: Wajarkah? —- Yohanes 14:1-31 —-

November 10, 2008

Pendahuluan

Luapan emosi yang menggambarkan rasa tidak nyaman adalah ketakutan. Ada banyak hal yang bisa membuat kita takut. Salah satunya adalah kita takut ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi terlebih ditinggalkan oleh orang yang selama ini kita jadikan tempat untuk selalu bergantung dan jadikan sandaran hidup. Ada banyak diantara kita yang takut ditinggalkan oleh orang tua, istri atau pun anak serta saudara yang paling kita kasihi bahkan yang kita jadikan tempat berlindung, bergantung dan bersandar. Dan tentunya akan ada banyak alasan lainnya mengapa kita takut ditinggalkan. Persoalan ini juga tengah dihadapi oleh para murid Yesus. Mereka mengalami ketakutan ketika Yesus mulai berbicara bahwa Ia akan meninggalkan para murid-Nya (Yoh. 13:1, 33). Tentunya ada banyak hal yang membuat mereka takut. Mari coba kita menyelami perasaan dan pikiran yang senantiasa muncul dalam diri para murid yang berbuah pada kegelisahan dan ketakutan.

Bagaimanakah perasaan dan pikiran apa saja yang membuat mereka takut:
1. Petrus – Yohanes 13:36 ___________________________________________________
2. Tomas – Yohanes 14:5 _____________________________________________________
3. Filipus – Yohanes 14:8 ____________________________________________________
4. Yudas bukan Iskariot – Yohanes 14:22 ________________________________________
Apa yang dapat kita simpulkan dari fakta-fakta di atas:

Pernahkah Anda mengalami hal-hal sebagaimana yang dialami oleh para murid? Tuliskan hal-hal yang membuat Anda takut!

Apa yang Yesus lakukan ketika melihat para murid-Nya mengalami kegelisahan dan ketakutan?
____________________________________________________________________________________________

____________________________________________________________________________________________

____________________________________________ (ay. 1)
Apa yang Yesus harapkan dari para murid-Nya meski mengalami kegelisahan dan ketakutan?
____________________________________________________________________________________________

____________________________________________________________________________________________

_____________________________ (ay. 1, 10, 11, 12 dan 15)
Apa yang Yesus janjikan kepada para murid-Nya ketika mengalami kegelisahan dan ketakutan?
_____________________________________________________________________________________________

_____________________________________________________________________________________________

_____________________________________________________________________________________________

_____________________________________________________________________________________________

________________________________________________________________________ (ay. 16, 18, 26, 27, 28)

Penutup
Prinsip umum ketika mengalami kegelisahan dan ketakutan sebagaimana yang Yesus teladankan:
1. ……………. mengasihani ………………tetapi mau …………………..( 1)
2. Tetap ……………………… pada Tuhan dengan cara …………………… dan mentaati …………………………… Tuhan (1,10,11,12 dan 15)
3. Yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah ………………….. kita dan bahkan mengutus …………………… untuk senantiasa menghibur, ………………. dan ………………….. sehingga ……………………..sejahtera tinggal di dalam kita (ay. 16, 18, 26, 27, 28)

Selamat bergumul untuk menjadi semakin dewasa dalam Kristus.

Jadikan AKU yang kedua? Hakim-hakim 6

November 10, 2008

Pendahuluan:

Jadikan aku yang kedua…..
Buatlah diriku bahagia…..
Walaupun ku takkan pernah….
Milikimu selamanya……

Begitulah kira-kira penggalan syair lagu yang dinyanyikan penyanyi pendatang baru Astrid. Syair lagu tersebut seharusnya cukup menggelitik telinga kita dan membuat kita cukup untuk serius mulai memikirkannya. Ya… syair itu memang bukan hanya sekedar syair bagi kita tapi juga memang bentuk kehidupan atau suatu realita yang memang banyak terjadi akhir-akhir ini di dunia nyata.
Banyak sekali saat ini perempuan-perempuan yang rela menjadi orang yang menduduki posisi kedua diurutan rumah tangga orang alias istri kedua atau hanya sekedar menjadi wanita simpanan. Untuk apa mereka rela melakukan semua ini? Mengganggu kehidupan rumah tangga orang? Menyakiti sesamanya? Hanya demi alasan harta kekayaan.
Kisah Gideon tentunya bukan mengenai kisah seorang yang mau dijadikan yang kedua. Tetapi lebih tepat pada persoalan menjadikan Allah Yahwe sebagai yang kedua setelah Baal. Allah dijadikan yang kedua? Apakah mungkin? Bagaimanakah respon Allah jika itu menjadi sesuatu fakta dan bukan lagi sebagai opini? Pelajaran apakah yang kita peroleh dari persoalan ini?

Isi
1. Apakah yang dilakukan oleh orang Israel dalam hal, relasinya dengan Tuhan Allah? (ay.1, 7-10)
________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

2. Apakah yang dilakukan oleh Allah dalam hal, Israel yang adalah umat kesayangan-Nya berkhianat dan membuat relasi menjadi tidak sehat? (ay. 1b – 6)
_______________________________________________________________________________________________

_______________________________________________________________________________________________

_______________________________________________________________________________________________

_______________________________________________________________________________________________

_______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

3. Apakah Allah juga memperlakukan Israel seperti yang telah dilakukan Israel kepada-Nya? (ay. 14, 16)
______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

4. Apakah yang harus dilakukan Israel melalui hamba-Nya Gideon? (ay. 22-24)
______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

Penutup
Apa yang dapat dipetik dari pelajaran yang selalu berulang kali terjadi ini?
______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________________________

Tiga Rahasia Hidup yang Berhasil (Kejadian 39:1-23)

November 10, 2008

S aat ini kita tentu banyak mendengar tentang keberhasilan. Kalau kita menyadarinya, sekarang ini begitu banyak buku yang ditulis yang membahas masalah ini. Bahkan banyak klinik, seminar dan pertemuan-pertemuan diadakan untuk memotivasi orang supaya memiliki kehidupan berhasil yang menghabiskan biaya hingga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Kita sendiri tidak jarang berusaha membaca buku-buku yang mengupas masalah tersebut atau mendengarkan banyak ceramah dengan topik keberhasilan. Dan yang paling terakhir yang sekarang menghebohkan dunia adalah tentang diterbitkannya buku yang berjudul “the secret” (bhs Indonesia: rahasia itu-sangat spesifik). Yang juga banyak diperbincangkan bahkan sudah mulai dikemas dalam bentuk VCD dan DVD. You are holding in your hand a great secret of the universe, the secret has traveled through centuries … to reach you demikianlah yang menjadi tema utama dari buku the secret, yang berarti bahwa setiap kita sekarang ini memegang suatu rahasia besar dari alam semesta dan rahasia itu sudah melintasi abad-abad yang lampau hingga sekarang ini untuk kita miliki. Rahasia itu sudah diungkapkan oleh para ilmuwan, penulis dan para filsafat besar dunia yang dibuktikan sendiri oleh mereka, bagaimana hidup mereka diubahkan semisal: Plato, Newton, Carnegie, Beethoven, Shakespeare maupun Einstein. Ada suatu klaim dari penulis buku ini yang ingin membuktikan bahwa semua orang besar dan berhasil di dunia telah memegang rahasia itu dan rahasia itu sudah ada dalam diri setiap manusia. Yang lebih menghebohkan adalah bahwa segala sesuatu seperti: sukacita, kesehatan, relasi, cinta, kebahagiaan dan apapun yang kita inginkan dapat terpenuhi kalau kita hidup dengan membangkitkan dalam diri kita aturan the secret. Sepertinya sangat menarik sekali, tetapi sesungguhnya dibalik semuanya itu the secret telah membuang jauh-jauh peran dan eksistensi Allah di dunia. Bahwa manusia dapat melakukan apapun asal patuh pada prinsip dan aturan main the secret. Secara vulgar the secret mau mengajarkan bahwa manusia adalah allah, paling tidak bagi dirinya sendiri. Sungguh menarik manusia yang berhasil adalah manusia yang menjadi allah. Bukankah tema ini yang sudah muncul sejak kejatuhan manusia pertama hingga sekarang ini? Lalu apa sebenarnya the trully secret for us (rahasia yang sejati untuk hidup berhasil bagi kita)? Belajar dari pengalaman Yusuf paling sedikitnya ada tiga rahasia besar yang membuat hidup kita menjadi berhasil: pertama, menyakini bahwa Allah senantiasa menyertai kita (ay. 2-3); kedua menghidupkan iman dalam setiap prilaku kita (ay. 8-10, 12); dan yang ketiga menerima dan menjalani dengan setia setiap keadaan baik maupun buruk sebagai konsekuensi hidup beriman kita (ay. 9b, 14, 20). Dan sekarang rahasia kebenaran sejati sudah dinyatakan kepada kita. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana hidup kita selanjutnya dalam memasuki tahun baru 2008 ini? Selamat Tahun Baru 2008. Tuhan senantiasa menyertai.

Ufuk Muria

November 10, 2008
Engkau menyelidiki dan mengenal aku,
Engkau mengetahui kalau aku duduk dan berdiri,
Engkau mengerti pikiranku dari jauh
Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,
Segala jalanku Kau maklumi

Psalm 139