Yakobus 5: Pelajaran Berharga Mengenai Kesabaran

Pendahuluan

Sebuah rumah gubuk kecil berdiri anggun di tanah pegunungan yang indah dan hijau. Di gubuk yang terpencil itu, tinggallah seorang kakek tua yang sangat terkenal karena kebijakasanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasehat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasehat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi yang tidak terkendali.
Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, “Anak muda, setiap kali engkau tersinggung atau terpancing untuk marah-marah, ingatlah ren 7 pu. Tujuh langkah kesabaran. Untuk itu, lakukanlah twee 7 pu, cai cuo 7 pu, yaitu melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan bertindak.”
Merasa mendapatkan nasihat bijak, pria itu pulang kembali ke desanya. Ia yakin sekali masalah emosi yang dideritanya pasti bisa terpecahkan. Tiga hari perjalanan kembali harus dia tempuh. Hari telah larut ketika ia sampai di rumah. Dengan pakaian yang lusuh, badan letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar istrinya. Di kepalanya, ia hendak meminta istrinya supaya menyediakan makan malam dan air hangat untuk mandi. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.
Demi melihat pemandangan menjijikkan itu, langsung amarahnya meluap tak tertahankan lagi. “Kurang ajar! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani menyeleweng…!” Tanpa berpikir panjang, pria itu mencabut belati dan hendak menghabisi keduanya. Tetapi, seketika itu juga dirinya teringat dengan nasehat si kakek tua yang bijak; twee 7 pu, cai cuo 7 pu. Sambil tetap mengangkat tangan menghunus belati, pria itu mulai menjalankan nasihat si kakek. Ia melangkah sambil menghitung, dwee 7 pu, mundur tujuh langkah, cai cuo 7 pu, maju tujuh langkah. Kembali lagi, dwee 7 pu cai cuo 7 pu, sampai akhirnya suara hitungan dan hentakan kakinya membangunkan sang istri.

Cerita diatas dihentikan sampai disini. Apa yang menjadi bayangan dipikiran kita untuk melanjutkan ataupun menebak cerita ini?

Isi

Pasal V terbagi menjadi 3 bagian besar yang sudah terbagi dengan baik oleh LAI (1) persoalan tentang fokus hidup adalah bukanlah materi (2) ketika datang kesukaran oleh karena materi apapun, sabarlah menunggu pertolongan Tuhan; (3) setialah untuk berdoa dan dekat pada Tuhan.
Ada tiga hal yang harus dilakukan supaya kita tetap tidak kehilangan fokus hidup, yakni:
1. Ay. 1-3 ______________________________________________ [atur dengan bijak]
2. Ay. 4 ____________________________________________ [gunakan dengan jujur]
3. Ay. 5-6 ___________________________________________ [bagikan dengan tulus]

Bagian Doa yang senantiasa [harus] menjadi PR untuk terus menerus kita kerjakan adalah persoalan kesabaran menantikan waktu TUHAN.
Menjadikan kesabaran menjadi bagian penting dalam hidup kita tidaklah mudah; paling tidak ada tiga pencobaan yang menghadang kita sehingga membuat kita tidak lagi sabar menanti waktu Tuhan:
1. Ay. 7 dan 8A _________________________________________________ [menunggu]
2. Ay. 8B ______________________________________________________ [perspektif]
3. Ay. 9 _______________________________________________________ [mengutuk]

Apa yang seharusnya dilakukan ketika 3 hal diatas mulai datang mencobai kita?
1. Ay. 7 dan 8A _________________________________________________________
2. Ay. 8B ______________________________________________________________
3. Ay. 9 _______________________________________________________________
Rangkaian dari Doa bukan hanya persoalan fokus, kesabaran menunggu saja, tetapi juga segala bentuk aspek hidup kita persembahkan dan naikkan dalam hidup kita
_____________________________________________________________________________________________

_____________________________________________________________________________________________

____________________________________________________________________________________Ay. 13-18

Penutup
ren 7 pu , tujuh langkah kesabaran menurut Yakobus: (1) atur dengan bijak; (2) gunakan dengan jujur; (3) bagikan dengan tulus; (4) belajar menanti waktu Tuhan; (5) dekat dengan Tuhan; (6) jangan mengutuk; dan (7) naikkanlah terus dalam doa pada Tuhan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: