Arsip untuk November 12th, 2008

Luruskan Jalan bagi Tuhan: Songsong Natal dengan Hati

November 12, 2008

Luruskan Jalan bagi Tuhan: Songsong Natal dengan Hati

Corrie Ten Boom suatu kali pernah berkata, “Sekalipun Yesus lahir seribu kali di Bethlehem tetapi bukan di dalam hati saya, maka saya akan tetap terhilang.” Tentunya kalimat yang indah ini rasanya tidak berlebihan jika kemudian kita pertanyakan dalam diri setiap kita orang percaya khususnya dalam menyongsong Natal kali ini: “Betulkah Yesus sudah lahir dalam hati saya?” Sehingga kelahiran-Nya dalam hati kita akan mendatangkan perubahan dalam hidup.
Yohanes Pembaptis yang hidup di tengah-tengah zaman yang bengkok pada waktu itu berani tampil menyuarakan suara kenabian: ” Persiapkan jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya…” Keberanian menyuarakan suara kenabian ini tidak muncul dengan sendirinya, apalagi dengan tuntutan penjara dan kematian (lihat: ay. 18; bandingkan: Mrk. 6:16, 27) sebagaimana yang dialami oleh Yohanes Pembaptis.
Ada kesamaan situasi hidup antara Yohanes Pembaptis dengan kita saat ini. Peristiwa Natal itu sama-sama telah dilalui, yang membedakan hanya pada persoalan rentang waktunya saja. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dan berani tampil menyuarakan suara kenabian, peristiwa Natal hanya berselang beberapa tahun saja sedangkan kita lebih dari 2000 tahun yang lalu. Akan tetapi hal ini bukan menjadi penghalang bagi kita untuk meresponi dan menyongsong peringatan Natal dengan spirit yang sama. Spirit yang dibawa oleh Yohanes Pembaptis dalam meresponi dan menyongsong peringatan Natal kali ini adalah adanya sebuah ajakan dan seruan untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi Tuhan. Ini berarti ada aspek eskatologis (akhir zaman) yang ditekankan dalam pemaknaan Natal. Bahwa Natal seharusnya diresponi dan disongsong dengan mempersiapkan diri kita memasuki kekekalan hidup bersama dengan Tuhan. Kita diajak bukan untuk hidup now atau sekarang ini saja tetapi terlebih daripada itu kita juga harus hidup then atau nanti, yang memiliki proyeksi pada kekekalan. Dengan demikian kita diajak untuk membereskan hidup kita dengan hidup benar dihadapan Tuhan terlebih dahulu untuk selanjutnya membereskan dunia sekeliling dengan kebenaran hidup itu sendiri. Secara sederhana kita diajak meresponi dan menyongsong peringatan Natal kali ini dengan: (1) hati kita mau mendengar suara Tuhan; (2) hati kita mau diubahkan untuk menghasilkan buah pertobatan; dan (3) hati kita diliputi dan dipenuhi kasih ilahi. Mengapa meresponi dan menyongsong Natal dengan hati? Karena dari hati terpancar kehidupan. Jadi persembahkanlah hatimu karena sesungguhnya Tuhan melihat hati dan bukan apa yang dilihat manusia. Mari kita songsong Natal dengan hati yang diubahkan oleh Tuhan, Amin.

Iklan

MELIHAT DARI DEKAT PERSOALAN MENYONTEK (CHEATING), PENDISIPLINAN DAN PENCEGAHANNYA

November 12, 2008

MELIHAT DARI DEKAT PERSOALAN MENYONTEK (CHEATING), PENDISIPLINAN DAN PENCEGAHANNYA

oleh ANTONI NUGROHO

 dalam artikel aslinya terdapat footnote dan kutipan;
jika menginginkan silahkan hubungi penulis lewat administrator. Terima Kasih 


1. PENDAHULUAN
Beberapa waktu sebelum pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2006, seorang guru bidang sains yang sekaligus menjabat Pembantu Kepala Sekolah (PKS) bidang Kurikulum di sebuah lembaga pendidikan di daerah Sumatera Utara tidak biasanya datang memasuki ruang kelas dengan membawa sebuah Alkitab. Dalam pembukaan kelas pada hari tersebut sang Pendidik ini membacakan suatu bagian ayat yang berbunyi demikian, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Ayat yang cukup singkat ini kemudian diterjemahkan dengan suatu penekanan nilai bahwa sebagai orang percaya maka kita diharapkan mampu menjawab panggilan ini. Lebih lanjut dikatakan, sebagai seorang pelajar yang percaya kepada Tuhan maka diharapkan siswa-siswi yang lebih pandai – parameter yang digunakan adalah hanya pandai di dalam ranah kognitif – dalam banyak hal dapat memberikan pertolongan dan saling membantu dengan memberikan jawaban atas setiap soal yang keluar kepada siswa-siswi yang kurang pandai untuk memenuhi hukum Kristus. Jika demikian yang terjadi maka sesungguhnya persoalan menyontek baik aktif maupun pasif adalah suatu persoalan yang mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Aspek Agama yang bergerak sebagai kontrol moral. Benarkah yang terjadi demikian?
Dalam sebuah artikelnya, Jawa Pos – salah satu koran dengan tiras terbesar – memuat hasil poling yang dilakukannya atas siswa-siswi SMP di Surabaya mengenai persoalan menyontek dengan hasil yang lumayan mengejutkan. Data itu menyebutkan bahwa, jumlah penyontek langsung tanpa malu-malu kucing mencapai 89,6 persen, langsung bertanya kepada teman mencapai 46,5 persen. Sedangkan 20 persen lebih berhati-hati pakai kode dan 14,9 persen mengandalkan lirikan. Untuk jumlah responDet yang lulus dari “sensor” guru, sejumlah 65,3 persen.
Data dan fakta di atas seharusnya membuat setiap kita prihatin dan malu. Makalah ini disusun oleh penulis sebagai wujud sumbangsih dan keprihatinan dalam rangka mengevaluasi dan mencari langkah terbaik dalam mengatasi permasalahan cheating. Adapun sistematika pembahasan makalah ini adalah: pertama, pendahuluan yang mengungkapkan fakta cheating yang memprihatinkan; kedua, isi yang di dalamnya nyata pembahasan mengenai pengertian cheating, faktor yang menjadi pendorong, tinjauan dari aspek Psikologis dan Alkitab, tindakan pendisiplinan dan pencegahan; dan ketiga, berupa kesimpulan dan saran. Kiranya apa yang tertulis tetap terbuka terhadap kritik dan masukan yang membangun.

2. ISI
2.1. Pengertian Cheating
Cheating menurut Wikipedia Encyclopedia sebagai suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pelanggaran aturan main yang ada.
Widiawan-seorang pemerhati pendidikan di Universitas Petra Surabaya-menyetujui pengertian menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta yang dipertegas lagi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Depdikbud sebagai suatu kegiatan mencontoh/meniru/mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Bahkan dia menambahkan pengertian menyontek dari bahasa Inggrisnya cheat, diartikan sebagai act in a dishonest way to win an advantage or profit dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English karangan A.S. Hornby. Artinya suatu tindakan yang tidak jujur untuk meraih keuntungan tertentu.
Abdullah Alhadza-Rektor Universitas Muhamadyah Kendari-menyetujui pendapat dari Bower (1964) yang mendefinisikan cheating sebagai “manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure),” maksudnya cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Yang bagi Alhadza pendapat Bower ini juga senada dengan Deighton (1971) yang menyatakan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods.” Maksudnya, cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
Dalam konteks pendidikan atau sekolah, beberapa perbuatan yang termasuk dalam kategori cheating antara lain adalah meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes/ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, arisan (saling tukar) mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take home test. Bahkan dalam Ujian Nasional (UN) yang barusan diadakanpun telah berkembang melalui teknologi tinggi semisal handphone dengan memakai jaringan GSM, ataupun Bluetooth.
Dalam perkembangannya cheating dapat ditemukan dalam bentuk perjokian seperti kasus yang sering terjadi dalam UMPTN. Dengan menggunakan banyak metode seperti pura-pura menjadi peserta dan duduk dekat dengan yang bersangkutan, menggantikan posisi peserta ketika test berlangsung, memberi lilin atau pelumas kepada lembaran jawaban komputer atau menebarkan atom magnit dengan maksud agar mesin scanner komputer dapat terkecoh ketika membaca lembar jawaban sehingga gagal mendeteksi jawaban yang salah atau menganggap semua jawaban benar, dan banyak lagi cara-cara yang sifatnya spekulatif maupun rasional.
Dalam tingkatan yang lebih intelek, sering kita dengar plagiat karya ilmiah seperti dalam wujud membajak hasil penelitian orang lain, menyalin skripsi, tes, ataupun desertasi orang lain dan mengajukannya dalam ujian sebagai karyanya sendiri.
Dalam konteks dunia olah raga, cheating dilakukan dalam bentuk penggunaan obat-obat penstimulus/doping guna meraih prestasi-prestasi spektakuler.
Ternyata praktik cheating banyak macamnya, dimulai dari bentuk yang sederhana sampai kepada bentuk yang canggih. Teknik cheating tampaknya mengikuti pula perkembangan teknologi, artinya semakin canggih teknologi yang dilibatkan dalam pendidikan maka semakin canggih pula bentuk cheating yang bakal menyertainya. Bervariasi dan beragamnya bentuk perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai cheating maka sekilas dapat diduga bahwa hampir semua pelajar pernah melakukan cheating meskipun mungkin wujudnya sangat sederhana dan dapat ditolerir.
Meskipun demikian dapat dikatakan bahwa apapun bentuknya, dengan cara sederhana ataupun dengan cara yang canggih, dari sesuatu yang sangat tercela sampai kepada yang mungkin dapat ditolerir, cheating tetap dianggap oleh masyarakat umum sebagai perbuatan ketidakjujuran, perbuatan curang yang bertentangan dengan iman Kristen serta tercela untuk dilakukan oleh seseorang yang terpelajar.
Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksud dengan cheating dalam tulisan ini adalah segala perbuatan atau trik-trik yang tidak jujur, perilaku tidak terpuji atau perbuatan curang yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik terutama yang terkait dengan evaluasi/ujian hasil dengan mengabaikan aturan dan kesepakatan yang ada.

2.2. Faktor Penyebab Cheating
Yang menjadi penyebab munculnya tindakan cheating bisa dipengaruhi beberapa hal. Baik yang sifatnya berasal dari dalam (internal) yakni diri sendiri maupun dari luar (eksternal) misalnya dari guru, orang tua maupun sistem pendidikan itu sendiri.

2.2.1. Faktor dari dalam diri sendiri

  • Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal. Biasanya disebabkan ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu belajar.
  • Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu.
  • Sudah kebiasaan.
  • Merupakan bagian dari insting untuk bertahan.
  • Merupakan bentuk pelarian/protes untuk mendapatkan keadilan. Hal ini disebabkan pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru/dosen.
  • Melihat beberapa mata pelajaran dengan kacamata yang kurang tepat, yakni merasa ada pelajaran yang penting dan tidak penting sehingga mempengaruhi keseriusan belajar.
  • Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan termasuk test/ujian.
  • Tidak ingin dianggap sok suci.
  • Lemahnya tingkat keimanan.

2.2.2. Faktor dari Guru

  • Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas belajar.
  • Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak mengalami variasi soal.
  • Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.
  • Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.

2.2.3. Faktor dari Orang Tua

  • Adanya hukuman yang berat jikalau anaknya tidak berprestasi.
  • Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak

2.2.4. Faktor dari Sistem Pendidikan

  • Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah, misalnya tetap terjadi one way yakni dari guru untuk siswa.
  • Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/siswa menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.

2.3. Cheating ditinjau dari Aspek Psikologi dan Aspek Iman Kristen
2.3.1. Aspek Psikologi
Dalam kaca mata psikologi, perilaku seseorang dipengaruhi oleh cara orang tersebut melihat faktor yang mempengaruhi kehidupannya atau yang disebut sebagai Locus of Control (pusat kendali). Orang yang dominan dikendalikan pusat kendali internal mempercayai bahwa kemajuan dalam hidup ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam diri sendiri. Mereka senang bekerja keras, mempunyai cita-cita tinggi, ulet, dan menganggap kemajuan dirinya disebabkan ia bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya. Sebaliknya, orang-orang yang lebih dominan dikendalikan faktor-faktor dari luar dirinya (faktor eksternal), mempercayai bahwa keberhasilannya ditentukan oleh hal-hal di luar dirinya, seperti nasib baik, adanya koneksi, dan bukan karena kerja keras diri sendiri. Orang-orang yang mempunyai pusat kendali eksternal cenderung beranggapan bahwa kerja keras, menepati waktu, bekerja penuh disiplin bukanlah faktor utama penyebab keberhasilan.
Melihat dan mempertimbangkan faktor pencetus yang mendorong seorang anak melakukan kegiatan cheating, maka sesungguhnya penulis melihat bahwa aspek motif belajar memberikan andil seorang anak mememiliki prilaku cheating. Dalam teori-teori motivasi belajar, Hamalik mengutip perkataan McDonald bahwa “motivation is a energy change whitin the person caracterized by affective arousal and anticipatory goal reaction.” Ini berarti motivasi adalah suatu perubahan energi yang terjadi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Seorang individu yang memiliki akademis tinggi biasanya selalu bersikap optimis dan memiliki perhatian yang tinggi. Berbeda dengan orang yang nilai akademis rendah biasanya pesimis dan kurang konsentrasi.
Dengan demikian jelaslah dapat kita lihat perbedaan motivasi berprestasi antara kedua tipe tersebut. Orang dengan motivasi berprestasi tinggi selalu ingin mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, bukan asal jadi, dan mereka mempunyai standar tinggi untuk kualitas hasil pekerjaan. Sedangkan orang dengan motivasi rendah (low achievement motivation) cenderung tidak mudah dalam mengatasi godaan untuk tidak menyontek, sehingga merupakan ciri kepribadian dari orang tersebut.
Alhadza sendiri juga mengungkapkan bahwa cheating bisa terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi underpressure, atau apabila dorongan atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar dari pada potensi yang dimiliki. Semakin besar harapan atau semakin tinggi prestasi yang diinginkan dan semakin kecil potensi yang dimiliki maka semakin besar hasrat dan kemungkinan untuk melakukan cheating. Dalam hal seperti itu maka, perilaku cheating tinggal menunggu kesempatan atau peluang saja, karena teori kriminal mengatakan bahwa kejahatan akan terjadi apabila bertemu antara niat dan kesempatan.
Lebih lanjut dari Aspek Psikologi ini, Alhadza menyikapi persoalan cheating sebagai suatu perilaku. Perilaku cheating banyak diakibatkan oleh pengaruh kelompok dimana orang cenderung berani melakukan karena melihat orang lain di kelompoknya juga melakukan. Apabila kecenderungan ini berlangsung secara terus-menerus, maka cheating akan menjadi kebiasaan seseorang, yang akan ditransfer tidak hanya pada kegiatan sekolah lainnya tetapi kepada kegiatan kemasyarakatan pada umumnya berdasarkan prinsip transfer of learning.

2.3.2. Aspek Iman Kristen
Alkitab memasukan permasalahan cheating kepada permasalahan yang serius. Alkitab memang tidak berbicara secara langsung, tetapi Alkitab cukup jelas untuk menilai bahwa cheating adalah dosa. Mengapa demikian? Melihat dan mengingat pengertian cheating sebagi perbuatan tidak jujur dan pencurian, maka Alkitab berbicara bahwa tindakan demikian adalah suatu kekejian di hadapan Tuhan.
Perilaku cheating melanggar 10 Perintah Tuhan. Jika menyontek itu adalah suatu bentuk pencurian maka sesungguhnya melanggar Perintah Tuhan yang ke-8 yang berbunyi “jangan mencuri” dan bila kemudian cheating dinilai sebagai bentuk dusta/ketidakjujuran maka sesungguh hal ini pun melanggar Hukum Tuhan ke-9 yang berbunyi “jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”

2.4. Pendisiplinan Cheating
Seiring dengang seriusnya Allah membenci cheating maka sesungguhnya diperlukan suatu pendisiplinan yang konsisten dan efektif yang di dalamnya nyata kasih Tuhan. Pendisiplinan diperlukan sebagai bagian integral dari bentuk didikan yang diberikan kepada setiap pelajar/siswa.
Disiplin lebih dari sekedar hukuman. Disiplin merupakan sebagian dari karakter yang kita tanamkan kepada peserta didik. Indikator disiplin yang baik dan sehat untuk cheater adalah dengan memperhatikan beberapa faktor diantaranya: (1) disiplin yang konstruktif; (2) disiplin yang membimbing; (3) disiplin yang konsisten; (4) disiplin yang menyatakan kasih; (5) disiplin yang bersifat rahasia.
Dobson (1970) melihat jika disiplin tidak atau kurang ditegakkan berarti ada indikasi telah terjadi kemerosotan kewibawaan, guru dan orang tua dihadapan anak. Dan jika ini yang terjadi maka terjadi adalah kekacauan dan munculnya generasi yang tidak dapat dikuasai lagi.
Tujuan dari pendisiplinan adalah agar tetap terjaga iklim pendidikan yang memberikan perubahan dalam diri seorang siswa. Namun demikian pemberian disiplin tetap diliputi dengan atmosfer kasih. Karena disiplin itu sendiri lahir dari kasih.

2.5. Cara Penanggulangan Cheating
Dari uraian di atas dapat diidentifikasi bahwa ada empat faktor yang menjadi penyebab cheating yaitu: (1) faktor individual atau pribadi dari cheater, 2) faktor lingkungan atau pengaruh kelompok, (3) faktor sistem evaluasi dan (4) faktor guru/dosen atau penilai.
Berkenaan dengan hasil tinjauan dari aspek psikologi dan iman kristen, dapat ditegaskan bahwa yang terpenting dalam pendidikan moral adalah bagaimana menciptakan faktor kondisional yang dapat mengundang dan memfasilitasi seseorang tidak melakukan cheating maka caranya adalah mengkondisikan keempat faktor di atas ke arah yang mendukung, yaitu sebagai berikut:

(1) Faktor pribadi dari cheater
(a) Bangkitkan rasa percaya diri
(b) Arahkan self concept mereka ke arah yang lebih
proporsional
(c) Biasakan mereka berpikir lebih realistis dan tidak
ambisius
(d) Tumbuhkan kesadaran hati nurani yang mampu mengontrol naluri beserta desakan logis rasionalitas jangka pendek yang bermuara kepada perilakunya.
(e) Tanamkan kebenaran Firman Tuhan bahwa menyontek adalah dosa.
(f) Belajar menerima kegagalan hidup sebagai bagian proses perkembangan yang harus dilewati.
(g) Berikan dorongan untuk membaca kisah-kisah kesuksesan dari tokoh-tokoh besar, entrepreneur, bahkan dari orang-orang invalid yang berhasil dengan perjuangannya sendiri.
(h) Membuat sistem belajar yang menarik bagi dirinya.

(2) Faktor Lingkungan dan Kelompok
Ciptakan kesadaran disiplin dan kode etik kelompok yang sarat dengan pertimbangan moral.

(3) Faktor Sistem Evaluasi
(a) Buat instrumen evaluasi yang valid dan reliable (yang tepat dan tetap)
(b) Terapkan cara pemberian skor yang benar-benar objektif
(c) Lakukan pengawasan yang ketat dan tidak kompromi ataupun pilih kasih.
(d) Bentuk soal disesuaikan dengan perkembangan kematangan peserta didik.

(4) Faktor Guru/Dosen
(a) Berlaku objektif dan terbuka dalam pemberian nilai.
(b) Bersikap rasional dan tidak melakukan cheating dalam memberikan tugas ujian/tes.
(c) Tunjukkan keteladanan dalam perilaku moral.
(d) Berikan umpan balik atas setiap penugasan.
(e) Menyusun metode belajar-mengajar yang tidak monoton, atau dikemas dengan cara penyampaian yang menarik. Hal ini juga akan membuat guru tidak bosan mengajar, karena selalu ada hal-hal baru yang menarik dan membuat siswa bersemangat.
(f) Guru perlu memahami tujuan atau target pemahaman dari suatu mata pelajaran dan diimplementasikan pada saat mengajar, sehingga siswa dapat mencerna manfaat dari pelajaran yang diterimanya. Hal ini juga akan memotivasi siswa untuk berusaha memahami pelajaran.

3. PENUTUP
Kesimpulan
Ketika penulis mencari artikel tentang kata cheating melalui search engine http://www.google.com, maka dalam 0,19 detik telah muncul 34.900.000 artikel yang mengupas persoalan cheating. Ini berarti persoalan menyontek telah menjadi masalah bagi dunia. Kita sebagai pelaku pendidikan di Indonesia diharapkan memberikan sumbangsih dalam dunia pendidikan Indonesia. Jika Direzkia sangat mengkhawatirkan akibat cheating dalam jangka panjang dapat membantuk seorang white crimer, maka tidak naif juga kalau kita seharusnya lebih-lebih lagi karena panggilan kita sebagai seorang pendidik Kristen.
Allah sendiri memandang cheating dengan serius sebagai dosa. Jika setiap kita memandang serius permasalahan cheating maka sesungguhnya kita akan mengerti bahwa cheating perlu disikapi bersama-sama, baik pemerintah – selaku pelindung dan pemrakarsa sekaligus pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kelangsungan pendidikan di Indonesia; keluarga; dan masyarakat selaku locus peserta didik selain sekolah. Kerja sama diperlukan untuk menciptakan sinergi yang baik untuk menegakkan disiplin sesuai dengan kaidah dan pertimbangan yang matang dalam kerangka kasih, sekaligus menerapkan dan memikirkan hal-hal yang dapat mencegah semakin membudayanya cheating.

Saran
Mempertimbangkan peserta didik adalah manusia yang utuh dan unik dimata Tuhan. Untuk itu ada hal-hal praktis yang dapat dilakukan, yakni:
(1) menciptakan suatu suasana kondusif di sekolah di mana kematangan mental para siswa dapat lebih ditingkatkan dan komitmen akademik dapat dipacu sehingga perbuatan ketidakjujuran di sekolah dapat dikurangi.
(2) Secara khusus kepada siswa harus ditanamkan bahwa cheating dengan pelbagai bentuknya adalah dosa. Melakukan cheating berarti tidak mentaati firman Tuhan.
(3) Tidak ada kata terlambat untuk menghentikan kebiasaan cheating untuk itu ciptakan sistem konseling yang baik untuk mengentaskan anak didik dari kebiasaan cheating.

Melihat dari dekat Istri Idaman : Amsal 31

November 12, 2008

Melihat dari dekat Istri Idaman

Amsal 31

“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” –
Amsal 30:10

Pendahuluan

Kalau kita pergi ke kota-kota kecil di daerah-seperti kota Ponorogo dan sebagian besar di Bali-akan banyak ditemui hal yang jauh berbeda dari zaman dulu. Kebanyakan yang akan dijumpai di sana adalah para Bapak-bapak atau pemuda desa malah jadi orang rumahan. Lalu kemanakah gerangan istri atau pemudi desa? Justru para wanita kerja keras jadi TKW di luar negeri kalaupun tidak , biasanya mereka bekerja mulai menjadi buruh kasar dijalan maupun menjadi pembantu ataupun berjualan di pasar. Apakah ini yang dinamakan istri idaman? Dan kalaupun ditanyakan kepada mereka maka jawaban yang diberikanpun cukup sederhana, memang tugas istri bekerja sedangkan suami ada di rumah. Dari jawaban ini paling tidak dapat disimpulkan menjadi istri idaman adalah istri yang tunduk pada budaya yang ada, bahwa istri harus menerima dan menyerah pada budaya yang ada. Apakah ini salah? Apakah ini tepat? Apakah istri idaman itu jika hal yang sama diberlakukan pada sebagian besar budaya yang berlatar belakang patriakhal (suami atau laki-laki dipandang sebagai yang berkuasa dan yang menentukan garis keturunan). Kali ini kita diajak melihat dari dekat istri idaman dengan latar belakang budaya patriakhal, bagaimanakah potret istri idaman menurut Amsal 31?

Isi

I. Istri idaman dan relasinya terhadap suaminya

I.1. Amsal 31:11

I.2. Amsal 31:12

I.3. Amsal 31:23

I.4. Amsal 31:29

II. Istri idaman dan relasinya terhadap anak-anaknya

II.1. Amsal 31:28
(lihat ay. 15, 21, 26)

III. Istri idaman dalam mengatur rumah tangganya

III.1. Amsal 31:13

III.2. Amsal 31:14

III.3. Amsal 31:15

III.4. Amsal 31:16

III.5. Amsal 31:17

III.6. Amsal 31:18

III.7. Amsal 31:19

III.8. Amsal 31:21

III.9. Amsal 31:22

III.10.Amsal 31:25

III.11.Amsal 31:26

III.12.Amsal 31:27

IV. Istri idaman dan relasinya dengan Allah dan orang lain

IV.1. Amsal 31:20

IV.2. Amsal 31:30

IV.3. Amsal 31:31

Penutup

Apakah kita senantiasa mensyukuri keberadaan istri kita?

Apakah kita senantiasa mau mendukung istri kita apapun keadaannya untuk bertumbuh menjadi istri idaman?

Jika kita menjadi Kepala rumah tangga maka alangkah bijaknya kalau kita mulai merenungkan Amsal 31:31 dimana dikenal dan dikenang sebagai istri idaman yang bijak melalui buah-buah yang dihasilkannya (versus ay. 3)

Naskah Drama Natal Komisi Sekolah Minggu GKMI Jepara

November 12, 2008

Naskah Drama Natal Komisi Sekolah Minggu GKMI Jepara

26 Desember 2008
Tema: Anak BIJAK

Oleh: ANTONI NUGROHO

Tokoh-tokoh:

TITO: Anak dari keluarga sederhana; seorang yang baik hati dan takut Tuhan.
YOHANES : Anak dari keluarga yang sangat kaya; seorang yang sombong dan manja.
DIDIT : Anak Yatim Piatu; hidup dijalanan, tidak sekolah tapi mau bekerja keras.
AYAH TITO : Ayah yang mengasihi istri dan anaknya
IBU TITO : Ibu yang mengasihi suami dan anaknya
PENGASUH YOHANES : Selalu menjalankan tugas dan memanjakan yang diasuh.
GURU SEKOLAH MINGGU : Pembimbing yang baik bagi anak Sekolah Minggu

PROLOG

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran
dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam
rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang
harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat
meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang
ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku:
“Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

BABAK I

Setting : Dunia yang indah ciptaan Tuhan digambarkan oleh penari dari kelompok Indria dan P 1.

Tito : Aduh…. indahnya dunia ini ……… Tuhan Yesus memang luar biasa. Coba lihat (sambil menunjuk sesuatu dan mendekat) indahnya bunga itu……… (berlari ke tempat yang lain) di sebelah sini ada ikan………. ada burung……….hahaha………..mereka semua lucu-lucu. Tapi lihat (sambil menunjuk sampah/kotoran yang tercecer dengan wajah yang tidak suka) ……… wah banyak sekali sampah yang dibuang sembarangan…….uh..uh..uh.. banyak sekali…… pantas saja sering banjir ditempat tinggalku………. karena banyak orang menjadi tidak bijaksana memelihara dunia. Apakah yang dapat saya lakukan…..? (sambil melihat kekanan dan kekiri mencari sesuatu sambil mendekat kearah Didit tidur)
Didit : (sedang tidur didekat dimana Tito berada… karena merasa terganggu maka dia terbangun) aduh…….. siapa ya berisik sekali……….apa tidak tahu saya lagi tidur….. aduh badanku rasanya capek sekali….(tetapi dengan perasaan kaget berteriak) hei …. kamu siapa?
Tito : aduh maaf…saya tidak tahu ada orang lain ditempat ini…e… e,… nama saya Tito…kamu siapa?
Didit : saya Didit…. kenapa kamu datang ke rumahku?
Tito : Rumah? ……(sambil bingung dan melihat sekitar) apa saya yang keliru? Disini kan tidak ada rumah….?
Didit : aduh….Tito kamu memang tidak akan pernah melihat ada bangunan rumah di sini tetapi saya tinggal disini, makanya saya sebut ini rumah saya.?
Tito : jadi kamu… tinggal disini? Dimana orangtua kamu Dit?
Didit : Mereka sudah lama meninggal dunia……..saya sendirian sekarang……(sambil tetap berusaha tersenyum) dan untuk mendapatkan makanan saya harus ……(sambil menunjukkan otot lengannya dan mengambil keranjang ) bekerja….. saya mengumpulkan barang bekas dan saya jual… lumayan bisa makan….. saya bekerja dulu ya…..(sambil bangkit berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Tito)
Tito : Dit…. tunggu ….. Didit……. (tapi Didit sudah pergi meninggalkan Tito)

Babak II

Setting : Perjalanan pulang sekolah yang cukup panas, Pengasuh Yohanes memayungi Yohanes yang sedang kepanasan.

Yohanes : Mbak……………. suster………….. aduh kamu ini bagaimana sih… dari tadi lelet saja kerjanya. Cepat betulin tali sepatuku yang lepas…. cepat ya suster…. udah kepanasan……. mana haus lagi……..huhuhu…(sambil kipas-kipas)
P.Yohanes : Mbok sabar to….Nyo….iki suster juga berat bawa tasnya sinyo (sambil jongkok mau membetulkan tali sepatu)
Yohanes : Aduh…..aduh piye to iki….suster kepalaku kena payung ….kamu mau tak pecat ya….awas kowe …. tak pecat mengko….
P. Yohanes : aduh Nyo, jangan marah Nyo, Mbak Suster minta maaf ya,,……….abis sinyo mintanya buru-buru… jadi lupa kalau bawa payung….jadi ini bagaimana, coba sinyo pegang payungnya, mbak suster mau membetulkan tali sepatu sinyo dulu….(sambil memberikan payung)
Yohanes : sini….sini….cepat ya…. awas kamu….udah berani perintah sama saya…..nanti saya beritahu mama tahu rasa kamu…..

Setelah selesai membetulkan tali sepatu, mereka berjalan kembali hingga mereka bertemu dengan Didit yang sedang mengais sampah….

Yohanes : Mbak suster………ayo lewat sini saja……ada orang gila dan bau disana……
P. Yohanes : lho…piye tho….dia bukan orang gila lho Nyo….tapi orang yang sedang mencari plastik bekas ditempat sampah supaya dapat makan…….tapi mbak suster juga takut………jangan-jangan memang orang gila…..hi…hi…hi…ayo Nyo lewat sini saja….
Yohanes : lho mbak suster kok takut juga……..trus kalau begini enaknya bagaimana……la….la….lari………ayo mbak suster lari………..
P. Yohanes : ayo…Nyo lewat sini….. cepatan….lari….

Tito tiba-tiba datang dari tikungan jalan hampir bertabrakan dengan Yohanes dan pengasuhnya…..

Tito : ada… ada apa Yo? Kok lari-lari seperti dikejar anjing…
Yohanes : ada orang gila disana tuh….takut aku………(sambil terus lari tidak menghiraukan Tito)
Tito : orang gila? Mana……..(sambil mencoba memperhatikan orang yang disebut gila oleh Yohanes)……….Lho itukan Didit.? Dit……….Didit!
Didit : (sambil nengok dan tersenyum) eh kamu Tito…. mau pergi kemana?
Tito : ah… cuma jalan-jalan saja. Dit boleh saya bertanya sama kamu? Jangan tersinggung ya…. seandainya kamu tinggal di rumah saya bagaimana?
Didit : kamu bercanda kan Tito……soalnya mana ada yang mau menerima orang seperti aku dirumahnya……… (sambil tertawa) teman kamu saja lari terbirit lihat muka dan pakaianku….apa kamu tidak malu…..lagi pula orang tua kamu bagaimana? Apa mereka setuju?
Tito : kalau masalah izin orang tua jangan takut deh…. mereka senang kok ketika saya bicarakan hal ini kepada mereka….soalnya saya kebetulan juga tidak ada saudara. Hehe…jadi kita bisa kemana-mana berdua…..bagaimana Dit?
Didit : gimana ya….saya tidak enak nantinya malah merepotkan..
Tito : udah begini saja……….sekarang ayo kerumahku…. ini betul-betul rumah meski tidak bagus tapi cukup layak untuk tidur……. ayo….(sambil menggandeng Didit tanpa canggung)

Babak III

Setting : Rumah sederhana Tito

Tito : Nah…. Dit… ini rumahku…….tidak besar tapi cukup nyaman kan……..
Didit : iya…..e…mana orang tua kamu Tito?
Tito : Sebentar ya…….saya panggil dulu…………Ayah……….Ibu………coba lihat saya bahwa siapa?
Ayah : wah Tito udah pulang………….ini pasti Didit ya……..apa kabar Didit?
Ibu : Didit kan? Tito cerita banyak tentang kamu. Kamu anak yang hebat. Mandiri dan tidak cengeng. Sudah makan Dit?
Didit : kabar saya baik-baik Pak.. Bu.. Terima kasih sudah mau menerima saya…..Cuma apakah saya nanti tidak merepotkan selama saya tinggal disini?
Ayah : Didit, kami semua sangat senang kamu bisa tinggal disini….anggap saja kami keluarga kamu sendiri. Bahkan boleh kok memanggil saya Ayah dan ini Ibu, karena Tito sendiri juga senang punya saudara seperti kamu…
Ibu : Ayah…. bicaranya nanti saja…. yang penting Didit mau tinggal disini….sekarang Tito kamu ajak Didit ke belakang untuk mandi dan jangan lupa pakaian kamu yang kemarin kamu siapkan untuk Didit sekalian disiapkan…. setelah itu baru makan… ya….kita lanjutkan ngobrolnya di meja makan………. ayo……………..(semua pemain masuk)

Narator : Demikianlah akhirnya Didit diterima dengan baik di keluarga Tito. Mereka menjadi keluarga yang baru bagi Didit. Bahkan sejak saat itu Didit juga ikut bersekolah bersama Tito. Tuhan telah memakai keluarga Tito untuk memelihara hidup Didit. Didit tidak perlu lagi kedinginan atau kepanasan. Juga tidak harus mengais sampah untuk mendapatkan sesuap nasi.

Babak IV

Setting : dilapangan bermain

Didit : Tito, apakah kamu bisa membantu saya? Saya masih minder bermain?
Tito : Dit, jangan minder lah……ayo main sama-sama…
Yohanes : Awas…… ada anak gembel lewat………..baunya bau kambing…………….wekk……………..weeeekkkkkkkkkkkkk………(berteriak setelah Didit lewat didekatnya dan disambung tertawa teman-temannya)

Narator : Demikianlah Didit selalu direndahkan oleh teman-temannya. Hanya karena dia dulunya adalah seorang pemulung. Tapi Tuhan Yesus menguatkan hati Didit melalui Tito. Tito memang sahabat sekaligus sahabat yang baik bagi Didit. Bagaimana dengan kalian?

Babak V

Setting : Serambi atau Ruang Tamu Rumah Tito

Didit : Sebetulnya mengapa ya keluarga ini begitu baik ya?
Ayah : Didit? Kok sendirian disini? Tito ada dimana?
Didit : Ayah….. ini lagi pengen sendirian……Yah, Didit mau tanya boleh tidak?
Ayah : Didit knapa jadi sungkan seperti ini., boleh donk. Memangnya mau tanya apa?
Didit : Didit bingung saja, kenapa Ayah, Ibu dan Tito begitu baik sama saya? Saya kan bukan siapa-siapanya ayah? Itu bagi Didit sangat aneh……….
Ayah : Didit, Ayah, Ibu dan Tito seperti ini karena Tuhan Yesus mengasihi kami. Kamu tentunya tidak tau bahwa Ayah bisa hidup seperti ini itu semua karena anugerah dari Tuhan Yesus. Dulu saya orang yang sangat jahat Dit? Tapi hati Ayah diubah setelah Ayah terima Tuhan Yesus. Sampai-sampai Ayah diberikan istri yang baik dan anak yang baik itu semua karena Tuhan Yesus. Dan sekarang Ayah bertemu dengan kamu juga karena Tuhan Yesus. Tidak mungkin Ayah, Ibu dan Tito menerima kamu kalau bukan Tuhan Yesus yang mengubah hati ayah. Jadi jangan bingung ya…. Apakah kamu mau terima Tuhan Yesus, Dit?
Didit : e…sa…saya mau Ayah…
Ayah : Kalau begitu mulai sekarang undanglah Tuhan Yesus masuk dalam hatimu ya Dit. Pasti DIA mau tinggal dihatimu
Didit : iya Ayah…..saya mau undang Yesus masuk dalam hatiku
Ibu : (masuk sambil bawa minuman) aduh bicara apa sih kok serius sekali….ini ibu bawakan kue dan teh hangat. Tito di dalam lagi belajar, Didit sudah selesai belajar?
Didit : e….. belum bu…..kalau begitu saya ke dalam dulu ya bu. Ayah saya belajar dulu ya… besok biar bisa mengerjakan soal ujian dengan baik
Ayah : ya..ya…ayo cepet sana….nanti malah ngantuk kamu karena hari sudah malam. Didit… jangan lupa ya berdoa minta Tuhan Yesus menolong kamu.
Didit : iya Ayah. Ibu saya masuk dulu ya….mau belajar di dalam
Ibu : (menunggu Didit masuk) mencicipi makanan dan minuman

Babak VI

Setting : Di dalam kelas setelah selesai ujian

Tito : Bagaimana Dit, apakah kamu bisa menjawab semua soal ujian?
Didit : Saya tidak tahu hasilnya Tito, tapi yang terpenting saya sudah berusaha menjawab semuanya. Lihat nanti hasilnya?
Tito : Yang pasti kita tidak nyontek itu sudah menyenangkan hati Tuhan Yesus.
Didit : Iya Tito…. saya tadi dipaksa untuk memberikan contekan ke Yohanes, tapi saya lebih takut sama Tuhan Yesus dibandingkan sama dia….
Tito : Bagus, ayo kita pulang……..udah lapar nih……..
Didit : Boleh tidak kalau kita berdoa terlebih dahulu sebelum pulang….. saya mau mengucap syukur karena Tuhan sudah menolong saya… Tito mau kan kita berdoa bersama……….
Tito : Ayo kita berdoa…..

Narator : Demikianlah Tito dan Didit berdoa kepada Tuhan Yesus yang sudah menolong mereka dan menjauhkan mereka dari segala pencobaan. Dengan mau jujur dan tidak berbuat curang sewaktu ujian. Apakah kalian semua juga mau melakukan hal ini?

Babak VII

Setting : Ruang kelas Sekolah Minggu

Guru SM : Siapakah yang hafal bunyi hukum kelima dari sepuluh hukum Tuhan?
Yohanes : Saya bu guru?
Guru SM : coba kamu Yohanes apa bunyinya?
Yohanes : jangan mencuri (anak-anak yang lain berteriak salah-salah, sambil mengacungkan jari)
Didit : saya bu, kalau tidak salah ingat, hormatilah Ayah dan Ibumu supaya lanjut umurmu ditanah yang Ku berikan kepadamu.
Guru SM : benar sekali Didit. Kamu pintar sekali. Kita harus menghormati orang tua kita karena itu perintah Tuhan. Bagaimana cara menghormati orang tua kita?
Tito : menaati dan tidak menghina orang tua kita.
Guru SM : benar Tito
Didit : menyayangi dan menyenangkan orang tua dengan belajar lebih rajin dan tidak malas
Yohanes : tapi bu guru, orang tua saya tidak pernah marah kalau saya malas dan bangun tidur kesiangan. Kalau saya tidak masuk sekolah juga tidak marah. Ini berarti orang tua saya tidak merasa tidak dihormati.
Guru SM : Yohanes dan anak-anak semua, Tuhan Yesus menghendaki setiap kita menjadi anak BIJAK. Cara menjadi anak BIJAK selalu mendengar nasehat orang tua dan patuh kepadanya. Kita tidak nakal, kita rajin belajar, kita menjadi pintar itulah menghormati dan menyayangi orang tua kita. Tentunya orang tua Yohanes memang tidak terlihat sedih kalau Yohanes nakal. mereka juga tidak marah. Tapi tahukah kamu sesungguhnya mereka sedih. Anak -anak BIJAK berarti mari kita hormati orang tua kita, sayangi kakak kita, sayangi adik kita. Tuhan Yesus pasti senang dengan anak-anak BIJAK. Amin.

Ending

Calling oleh Pembimbing/Pembawa Firman
Selesai disambut pujian Komitmen Pujian kedelapan

Doa berkat
Selamat hari Natal bersalam-salaman, pulang

NB: Setiap babak diselingi dengan pujian yang terdapat di Album Anak Bijak oleh TW Kids