Luruskan Jalan bagi Tuhan: Songsong Natal dengan Hati

Luruskan Jalan bagi Tuhan: Songsong Natal dengan Hati

Corrie Ten Boom suatu kali pernah berkata, “Sekalipun Yesus lahir seribu kali di Bethlehem tetapi bukan di dalam hati saya, maka saya akan tetap terhilang.” Tentunya kalimat yang indah ini rasanya tidak berlebihan jika kemudian kita pertanyakan dalam diri setiap kita orang percaya khususnya dalam menyongsong Natal kali ini: “Betulkah Yesus sudah lahir dalam hati saya?” Sehingga kelahiran-Nya dalam hati kita akan mendatangkan perubahan dalam hidup.
Yohanes Pembaptis yang hidup di tengah-tengah zaman yang bengkok pada waktu itu berani tampil menyuarakan suara kenabian: ” Persiapkan jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya…” Keberanian menyuarakan suara kenabian ini tidak muncul dengan sendirinya, apalagi dengan tuntutan penjara dan kematian (lihat: ay. 18; bandingkan: Mrk. 6:16, 27) sebagaimana yang dialami oleh Yohanes Pembaptis.
Ada kesamaan situasi hidup antara Yohanes Pembaptis dengan kita saat ini. Peristiwa Natal itu sama-sama telah dilalui, yang membedakan hanya pada persoalan rentang waktunya saja. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dan berani tampil menyuarakan suara kenabian, peristiwa Natal hanya berselang beberapa tahun saja sedangkan kita lebih dari 2000 tahun yang lalu. Akan tetapi hal ini bukan menjadi penghalang bagi kita untuk meresponi dan menyongsong peringatan Natal dengan spirit yang sama. Spirit yang dibawa oleh Yohanes Pembaptis dalam meresponi dan menyongsong peringatan Natal kali ini adalah adanya sebuah ajakan dan seruan untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi Tuhan. Ini berarti ada aspek eskatologis (akhir zaman) yang ditekankan dalam pemaknaan Natal. Bahwa Natal seharusnya diresponi dan disongsong dengan mempersiapkan diri kita memasuki kekekalan hidup bersama dengan Tuhan. Kita diajak bukan untuk hidup now atau sekarang ini saja tetapi terlebih daripada itu kita juga harus hidup then atau nanti, yang memiliki proyeksi pada kekekalan. Dengan demikian kita diajak untuk membereskan hidup kita dengan hidup benar dihadapan Tuhan terlebih dahulu untuk selanjutnya membereskan dunia sekeliling dengan kebenaran hidup itu sendiri. Secara sederhana kita diajak meresponi dan menyongsong peringatan Natal kali ini dengan: (1) hati kita mau mendengar suara Tuhan; (2) hati kita mau diubahkan untuk menghasilkan buah pertobatan; dan (3) hati kita diliputi dan dipenuhi kasih ilahi. Mengapa meresponi dan menyongsong Natal dengan hati? Karena dari hati terpancar kehidupan. Jadi persembahkanlah hatimu karena sesungguhnya Tuhan melihat hati dan bukan apa yang dilihat manusia. Mari kita songsong Natal dengan hati yang diubahkan oleh Tuhan, Amin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: