MELIHAT DARI DEKAT PERSOALAN MENYONTEK (CHEATING), PENDISIPLINAN DAN PENCEGAHANNYA

MELIHAT DARI DEKAT PERSOALAN MENYONTEK (CHEATING), PENDISIPLINAN DAN PENCEGAHANNYA

oleh ANTONI NUGROHO

 dalam artikel aslinya terdapat footnote dan kutipan;
jika menginginkan silahkan hubungi penulis lewat administrator. Terima Kasih 


1. PENDAHULUAN
Beberapa waktu sebelum pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2006, seorang guru bidang sains yang sekaligus menjabat Pembantu Kepala Sekolah (PKS) bidang Kurikulum di sebuah lembaga pendidikan di daerah Sumatera Utara tidak biasanya datang memasuki ruang kelas dengan membawa sebuah Alkitab. Dalam pembukaan kelas pada hari tersebut sang Pendidik ini membacakan suatu bagian ayat yang berbunyi demikian, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Ayat yang cukup singkat ini kemudian diterjemahkan dengan suatu penekanan nilai bahwa sebagai orang percaya maka kita diharapkan mampu menjawab panggilan ini. Lebih lanjut dikatakan, sebagai seorang pelajar yang percaya kepada Tuhan maka diharapkan siswa-siswi yang lebih pandai – parameter yang digunakan adalah hanya pandai di dalam ranah kognitif – dalam banyak hal dapat memberikan pertolongan dan saling membantu dengan memberikan jawaban atas setiap soal yang keluar kepada siswa-siswi yang kurang pandai untuk memenuhi hukum Kristus. Jika demikian yang terjadi maka sesungguhnya persoalan menyontek baik aktif maupun pasif adalah suatu persoalan yang mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Aspek Agama yang bergerak sebagai kontrol moral. Benarkah yang terjadi demikian?
Dalam sebuah artikelnya, Jawa Pos – salah satu koran dengan tiras terbesar – memuat hasil poling yang dilakukannya atas siswa-siswi SMP di Surabaya mengenai persoalan menyontek dengan hasil yang lumayan mengejutkan. Data itu menyebutkan bahwa, jumlah penyontek langsung tanpa malu-malu kucing mencapai 89,6 persen, langsung bertanya kepada teman mencapai 46,5 persen. Sedangkan 20 persen lebih berhati-hati pakai kode dan 14,9 persen mengandalkan lirikan. Untuk jumlah responDet yang lulus dari “sensor” guru, sejumlah 65,3 persen.
Data dan fakta di atas seharusnya membuat setiap kita prihatin dan malu. Makalah ini disusun oleh penulis sebagai wujud sumbangsih dan keprihatinan dalam rangka mengevaluasi dan mencari langkah terbaik dalam mengatasi permasalahan cheating. Adapun sistematika pembahasan makalah ini adalah: pertama, pendahuluan yang mengungkapkan fakta cheating yang memprihatinkan; kedua, isi yang di dalamnya nyata pembahasan mengenai pengertian cheating, faktor yang menjadi pendorong, tinjauan dari aspek Psikologis dan Alkitab, tindakan pendisiplinan dan pencegahan; dan ketiga, berupa kesimpulan dan saran. Kiranya apa yang tertulis tetap terbuka terhadap kritik dan masukan yang membangun.

2. ISI
2.1. Pengertian Cheating
Cheating menurut Wikipedia Encyclopedia sebagai suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pelanggaran aturan main yang ada.
Widiawan-seorang pemerhati pendidikan di Universitas Petra Surabaya-menyetujui pengertian menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta yang dipertegas lagi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Depdikbud sebagai suatu kegiatan mencontoh/meniru/mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Bahkan dia menambahkan pengertian menyontek dari bahasa Inggrisnya cheat, diartikan sebagai act in a dishonest way to win an advantage or profit dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English karangan A.S. Hornby. Artinya suatu tindakan yang tidak jujur untuk meraih keuntungan tertentu.
Abdullah Alhadza-Rektor Universitas Muhamadyah Kendari-menyetujui pendapat dari Bower (1964) yang mendefinisikan cheating sebagai “manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure),” maksudnya cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Yang bagi Alhadza pendapat Bower ini juga senada dengan Deighton (1971) yang menyatakan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods.” Maksudnya, cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
Dalam konteks pendidikan atau sekolah, beberapa perbuatan yang termasuk dalam kategori cheating antara lain adalah meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes/ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, arisan (saling tukar) mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take home test. Bahkan dalam Ujian Nasional (UN) yang barusan diadakanpun telah berkembang melalui teknologi tinggi semisal handphone dengan memakai jaringan GSM, ataupun Bluetooth.
Dalam perkembangannya cheating dapat ditemukan dalam bentuk perjokian seperti kasus yang sering terjadi dalam UMPTN. Dengan menggunakan banyak metode seperti pura-pura menjadi peserta dan duduk dekat dengan yang bersangkutan, menggantikan posisi peserta ketika test berlangsung, memberi lilin atau pelumas kepada lembaran jawaban komputer atau menebarkan atom magnit dengan maksud agar mesin scanner komputer dapat terkecoh ketika membaca lembar jawaban sehingga gagal mendeteksi jawaban yang salah atau menganggap semua jawaban benar, dan banyak lagi cara-cara yang sifatnya spekulatif maupun rasional.
Dalam tingkatan yang lebih intelek, sering kita dengar plagiat karya ilmiah seperti dalam wujud membajak hasil penelitian orang lain, menyalin skripsi, tes, ataupun desertasi orang lain dan mengajukannya dalam ujian sebagai karyanya sendiri.
Dalam konteks dunia olah raga, cheating dilakukan dalam bentuk penggunaan obat-obat penstimulus/doping guna meraih prestasi-prestasi spektakuler.
Ternyata praktik cheating banyak macamnya, dimulai dari bentuk yang sederhana sampai kepada bentuk yang canggih. Teknik cheating tampaknya mengikuti pula perkembangan teknologi, artinya semakin canggih teknologi yang dilibatkan dalam pendidikan maka semakin canggih pula bentuk cheating yang bakal menyertainya. Bervariasi dan beragamnya bentuk perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai cheating maka sekilas dapat diduga bahwa hampir semua pelajar pernah melakukan cheating meskipun mungkin wujudnya sangat sederhana dan dapat ditolerir.
Meskipun demikian dapat dikatakan bahwa apapun bentuknya, dengan cara sederhana ataupun dengan cara yang canggih, dari sesuatu yang sangat tercela sampai kepada yang mungkin dapat ditolerir, cheating tetap dianggap oleh masyarakat umum sebagai perbuatan ketidakjujuran, perbuatan curang yang bertentangan dengan iman Kristen serta tercela untuk dilakukan oleh seseorang yang terpelajar.
Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksud dengan cheating dalam tulisan ini adalah segala perbuatan atau trik-trik yang tidak jujur, perilaku tidak terpuji atau perbuatan curang yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik terutama yang terkait dengan evaluasi/ujian hasil dengan mengabaikan aturan dan kesepakatan yang ada.

2.2. Faktor Penyebab Cheating
Yang menjadi penyebab munculnya tindakan cheating bisa dipengaruhi beberapa hal. Baik yang sifatnya berasal dari dalam (internal) yakni diri sendiri maupun dari luar (eksternal) misalnya dari guru, orang tua maupun sistem pendidikan itu sendiri.

2.2.1. Faktor dari dalam diri sendiri

  • Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal. Biasanya disebabkan ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu belajar.
  • Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu.
  • Sudah kebiasaan.
  • Merupakan bagian dari insting untuk bertahan.
  • Merupakan bentuk pelarian/protes untuk mendapatkan keadilan. Hal ini disebabkan pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru/dosen.
  • Melihat beberapa mata pelajaran dengan kacamata yang kurang tepat, yakni merasa ada pelajaran yang penting dan tidak penting sehingga mempengaruhi keseriusan belajar.
  • Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan termasuk test/ujian.
  • Tidak ingin dianggap sok suci.
  • Lemahnya tingkat keimanan.

2.2.2. Faktor dari Guru

  • Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas belajar.
  • Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak mengalami variasi soal.
  • Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.
  • Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.

2.2.3. Faktor dari Orang Tua

  • Adanya hukuman yang berat jikalau anaknya tidak berprestasi.
  • Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak

2.2.4. Faktor dari Sistem Pendidikan

  • Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah, misalnya tetap terjadi one way yakni dari guru untuk siswa.
  • Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/siswa menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.

2.3. Cheating ditinjau dari Aspek Psikologi dan Aspek Iman Kristen
2.3.1. Aspek Psikologi
Dalam kaca mata psikologi, perilaku seseorang dipengaruhi oleh cara orang tersebut melihat faktor yang mempengaruhi kehidupannya atau yang disebut sebagai Locus of Control (pusat kendali). Orang yang dominan dikendalikan pusat kendali internal mempercayai bahwa kemajuan dalam hidup ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam diri sendiri. Mereka senang bekerja keras, mempunyai cita-cita tinggi, ulet, dan menganggap kemajuan dirinya disebabkan ia bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya. Sebaliknya, orang-orang yang lebih dominan dikendalikan faktor-faktor dari luar dirinya (faktor eksternal), mempercayai bahwa keberhasilannya ditentukan oleh hal-hal di luar dirinya, seperti nasib baik, adanya koneksi, dan bukan karena kerja keras diri sendiri. Orang-orang yang mempunyai pusat kendali eksternal cenderung beranggapan bahwa kerja keras, menepati waktu, bekerja penuh disiplin bukanlah faktor utama penyebab keberhasilan.
Melihat dan mempertimbangkan faktor pencetus yang mendorong seorang anak melakukan kegiatan cheating, maka sesungguhnya penulis melihat bahwa aspek motif belajar memberikan andil seorang anak mememiliki prilaku cheating. Dalam teori-teori motivasi belajar, Hamalik mengutip perkataan McDonald bahwa “motivation is a energy change whitin the person caracterized by affective arousal and anticipatory goal reaction.” Ini berarti motivasi adalah suatu perubahan energi yang terjadi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Seorang individu yang memiliki akademis tinggi biasanya selalu bersikap optimis dan memiliki perhatian yang tinggi. Berbeda dengan orang yang nilai akademis rendah biasanya pesimis dan kurang konsentrasi.
Dengan demikian jelaslah dapat kita lihat perbedaan motivasi berprestasi antara kedua tipe tersebut. Orang dengan motivasi berprestasi tinggi selalu ingin mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, bukan asal jadi, dan mereka mempunyai standar tinggi untuk kualitas hasil pekerjaan. Sedangkan orang dengan motivasi rendah (low achievement motivation) cenderung tidak mudah dalam mengatasi godaan untuk tidak menyontek, sehingga merupakan ciri kepribadian dari orang tersebut.
Alhadza sendiri juga mengungkapkan bahwa cheating bisa terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi underpressure, atau apabila dorongan atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar dari pada potensi yang dimiliki. Semakin besar harapan atau semakin tinggi prestasi yang diinginkan dan semakin kecil potensi yang dimiliki maka semakin besar hasrat dan kemungkinan untuk melakukan cheating. Dalam hal seperti itu maka, perilaku cheating tinggal menunggu kesempatan atau peluang saja, karena teori kriminal mengatakan bahwa kejahatan akan terjadi apabila bertemu antara niat dan kesempatan.
Lebih lanjut dari Aspek Psikologi ini, Alhadza menyikapi persoalan cheating sebagai suatu perilaku. Perilaku cheating banyak diakibatkan oleh pengaruh kelompok dimana orang cenderung berani melakukan karena melihat orang lain di kelompoknya juga melakukan. Apabila kecenderungan ini berlangsung secara terus-menerus, maka cheating akan menjadi kebiasaan seseorang, yang akan ditransfer tidak hanya pada kegiatan sekolah lainnya tetapi kepada kegiatan kemasyarakatan pada umumnya berdasarkan prinsip transfer of learning.

2.3.2. Aspek Iman Kristen
Alkitab memasukan permasalahan cheating kepada permasalahan yang serius. Alkitab memang tidak berbicara secara langsung, tetapi Alkitab cukup jelas untuk menilai bahwa cheating adalah dosa. Mengapa demikian? Melihat dan mengingat pengertian cheating sebagi perbuatan tidak jujur dan pencurian, maka Alkitab berbicara bahwa tindakan demikian adalah suatu kekejian di hadapan Tuhan.
Perilaku cheating melanggar 10 Perintah Tuhan. Jika menyontek itu adalah suatu bentuk pencurian maka sesungguhnya melanggar Perintah Tuhan yang ke-8 yang berbunyi “jangan mencuri” dan bila kemudian cheating dinilai sebagai bentuk dusta/ketidakjujuran maka sesungguh hal ini pun melanggar Hukum Tuhan ke-9 yang berbunyi “jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”

2.4. Pendisiplinan Cheating
Seiring dengang seriusnya Allah membenci cheating maka sesungguhnya diperlukan suatu pendisiplinan yang konsisten dan efektif yang di dalamnya nyata kasih Tuhan. Pendisiplinan diperlukan sebagai bagian integral dari bentuk didikan yang diberikan kepada setiap pelajar/siswa.
Disiplin lebih dari sekedar hukuman. Disiplin merupakan sebagian dari karakter yang kita tanamkan kepada peserta didik. Indikator disiplin yang baik dan sehat untuk cheater adalah dengan memperhatikan beberapa faktor diantaranya: (1) disiplin yang konstruktif; (2) disiplin yang membimbing; (3) disiplin yang konsisten; (4) disiplin yang menyatakan kasih; (5) disiplin yang bersifat rahasia.
Dobson (1970) melihat jika disiplin tidak atau kurang ditegakkan berarti ada indikasi telah terjadi kemerosotan kewibawaan, guru dan orang tua dihadapan anak. Dan jika ini yang terjadi maka terjadi adalah kekacauan dan munculnya generasi yang tidak dapat dikuasai lagi.
Tujuan dari pendisiplinan adalah agar tetap terjaga iklim pendidikan yang memberikan perubahan dalam diri seorang siswa. Namun demikian pemberian disiplin tetap diliputi dengan atmosfer kasih. Karena disiplin itu sendiri lahir dari kasih.

2.5. Cara Penanggulangan Cheating
Dari uraian di atas dapat diidentifikasi bahwa ada empat faktor yang menjadi penyebab cheating yaitu: (1) faktor individual atau pribadi dari cheater, 2) faktor lingkungan atau pengaruh kelompok, (3) faktor sistem evaluasi dan (4) faktor guru/dosen atau penilai.
Berkenaan dengan hasil tinjauan dari aspek psikologi dan iman kristen, dapat ditegaskan bahwa yang terpenting dalam pendidikan moral adalah bagaimana menciptakan faktor kondisional yang dapat mengundang dan memfasilitasi seseorang tidak melakukan cheating maka caranya adalah mengkondisikan keempat faktor di atas ke arah yang mendukung, yaitu sebagai berikut:

(1) Faktor pribadi dari cheater
(a) Bangkitkan rasa percaya diri
(b) Arahkan self concept mereka ke arah yang lebih
proporsional
(c) Biasakan mereka berpikir lebih realistis dan tidak
ambisius
(d) Tumbuhkan kesadaran hati nurani yang mampu mengontrol naluri beserta desakan logis rasionalitas jangka pendek yang bermuara kepada perilakunya.
(e) Tanamkan kebenaran Firman Tuhan bahwa menyontek adalah dosa.
(f) Belajar menerima kegagalan hidup sebagai bagian proses perkembangan yang harus dilewati.
(g) Berikan dorongan untuk membaca kisah-kisah kesuksesan dari tokoh-tokoh besar, entrepreneur, bahkan dari orang-orang invalid yang berhasil dengan perjuangannya sendiri.
(h) Membuat sistem belajar yang menarik bagi dirinya.

(2) Faktor Lingkungan dan Kelompok
Ciptakan kesadaran disiplin dan kode etik kelompok yang sarat dengan pertimbangan moral.

(3) Faktor Sistem Evaluasi
(a) Buat instrumen evaluasi yang valid dan reliable (yang tepat dan tetap)
(b) Terapkan cara pemberian skor yang benar-benar objektif
(c) Lakukan pengawasan yang ketat dan tidak kompromi ataupun pilih kasih.
(d) Bentuk soal disesuaikan dengan perkembangan kematangan peserta didik.

(4) Faktor Guru/Dosen
(a) Berlaku objektif dan terbuka dalam pemberian nilai.
(b) Bersikap rasional dan tidak melakukan cheating dalam memberikan tugas ujian/tes.
(c) Tunjukkan keteladanan dalam perilaku moral.
(d) Berikan umpan balik atas setiap penugasan.
(e) Menyusun metode belajar-mengajar yang tidak monoton, atau dikemas dengan cara penyampaian yang menarik. Hal ini juga akan membuat guru tidak bosan mengajar, karena selalu ada hal-hal baru yang menarik dan membuat siswa bersemangat.
(f) Guru perlu memahami tujuan atau target pemahaman dari suatu mata pelajaran dan diimplementasikan pada saat mengajar, sehingga siswa dapat mencerna manfaat dari pelajaran yang diterimanya. Hal ini juga akan memotivasi siswa untuk berusaha memahami pelajaran.

3. PENUTUP
Kesimpulan
Ketika penulis mencari artikel tentang kata cheating melalui search engine http://www.google.com, maka dalam 0,19 detik telah muncul 34.900.000 artikel yang mengupas persoalan cheating. Ini berarti persoalan menyontek telah menjadi masalah bagi dunia. Kita sebagai pelaku pendidikan di Indonesia diharapkan memberikan sumbangsih dalam dunia pendidikan Indonesia. Jika Direzkia sangat mengkhawatirkan akibat cheating dalam jangka panjang dapat membantuk seorang white crimer, maka tidak naif juga kalau kita seharusnya lebih-lebih lagi karena panggilan kita sebagai seorang pendidik Kristen.
Allah sendiri memandang cheating dengan serius sebagai dosa. Jika setiap kita memandang serius permasalahan cheating maka sesungguhnya kita akan mengerti bahwa cheating perlu disikapi bersama-sama, baik pemerintah – selaku pelindung dan pemrakarsa sekaligus pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kelangsungan pendidikan di Indonesia; keluarga; dan masyarakat selaku locus peserta didik selain sekolah. Kerja sama diperlukan untuk menciptakan sinergi yang baik untuk menegakkan disiplin sesuai dengan kaidah dan pertimbangan yang matang dalam kerangka kasih, sekaligus menerapkan dan memikirkan hal-hal yang dapat mencegah semakin membudayanya cheating.

Saran
Mempertimbangkan peserta didik adalah manusia yang utuh dan unik dimata Tuhan. Untuk itu ada hal-hal praktis yang dapat dilakukan, yakni:
(1) menciptakan suatu suasana kondusif di sekolah di mana kematangan mental para siswa dapat lebih ditingkatkan dan komitmen akademik dapat dipacu sehingga perbuatan ketidakjujuran di sekolah dapat dikurangi.
(2) Secara khusus kepada siswa harus ditanamkan bahwa cheating dengan pelbagai bentuknya adalah dosa. Melakukan cheating berarti tidak mentaati firman Tuhan.
(3) Tidak ada kata terlambat untuk menghentikan kebiasaan cheating untuk itu ciptakan sistem konseling yang baik untuk mengentaskan anak didik dari kebiasaan cheating.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: